Rindu

Saya tidak akan menyalahkan takdir yang dengan indahnya telah mempertemukan kita.

Saya tidak akan menyalahkan cinta yang tanpa sengaja hadir dan meleburkan batas pertemanan diantara kita.

Saya sangat berterima kasih, karena saya pernah memiliki anda dalam satu hari.

Saya bersyukur, karena saya kini mengerti tentang satu hal yakni rindu. Rindu untuk terus menjadikan anda bagian dari setiap langkah saya dalam mewujudkan mimpi-mimpi saya.

Ya…. Saya rindu, rindu cara anda untuk selalu menghapus airmata dan membisikkan bait semangat.

Jogja, 2018

Iklan

SEPASANG MATA ELANG

Ada yang tak pernah akan kembali kedalam hidup ini. Itu adalah masa lalu. Masa lalu adalah sebuah waktu yang telah berlalu. Sesuatu yang telah menjadi kenangan di masa yang akan datang. Hal yang akan menjadi cerita di kehidupan selanjutnya. Ada masa lalu yang membahagiakan dan selalu ingin di kenang, tak jarang pula masa lalu yang menyedihkan yang ingin dilupakan. Hari ini aku ingin bercerita tentang sepasang mata elang.

ya…. Sepasang mata elang yang aku lihat di balik dinding keilmuan. Aku menyebutnya keilmuan karena ditempat itu aku mendapatkan banyak sekali ilmu. Ilmu pengetahuan dan Ilmu kehidupan. Ilmu yang bisa membuat aku menulis, membaca, berbicara, berpikir dan memilih. Ilmu yang membuat aku haus dan merasa semakin bodoh dibuatnya. Padahal Tuhan selalu mengajarkan kita untuk bersyukur.

Sepasang mata itu tak pernah ku lihat lagi seusai aku belajar di pendidikan tingkat pertama ku. Aku tak lagi bisa mencuri sinarnya setiap pagi, karena jalan kami berbeda. Status ekonomi dan status sosial ku dan pemilik mata elang itu memang seperti langit dan bumi. Itulah sebabnya aku hanya bisa mencuri pandang saja tanpa ada rasa ingin memiliki.

Suatu ketika rasa itu memenuhi hati ku, tetapi dengan sengaja aku menepisnya. Segera terjaga dari mimpi – mimpi itu. Iya,, aku memang hanya bisa memimpikannya, karena sudah ku bilang kita mempunyai banyak perbedaan. Walau katanya perbedaan itu bukanlah menjadi jurang untuk bisa bersama, namun bagi ku perbedaan itu adalah dinding.

Ada juga yang bilang hidup terada berwarna bila dipenuhi dnegan perbedaan – perbedaan. Tetap saja bagi ku itu hanyalah sebuah rangkaian kata. Walaupun aku juga percaya perbedaan itu indah, tetapi tidak sepenuhnya percaya. Tidak semua hal yang berbeda itu indah, begitu juga tidak semua hal yang memiliki persamaan itu indah. Keindahan itu hanya bisa dinikmati karena adanya rasa syukur.

Setiap langkah kaki aku selalu berdo’a, pertemukan aku dengan sepasang mata elang itu. Sepasang mata yang membuat separuh usia ku, ku pergunakan untuk berusaha mencapai titik kesetaraan. Kesetaraan dalam kehidupan sosial dan ekonomi, karena tanpa itu aku tak akan bisa melihatnya lagi.

Jogja, 2015- 10- 15

Di bawah langit Ibukota

Lelahnya kaki ini melangkah, seakan terbayar dengan keindahan yang terlihat di depan mata. Gedung nan tinggi menjulang ke langit. Kereta tanpa kuda yang terus berlari kencang. Manusia yang berlalu lalang tanpa mengenal waktu. Seakan kota ini memang tak pernah tidur.

Kata orang tempat ini di sebut sebagai ibukota. Tempat dimana, semua serba gemerlap. Tempat dimana, orang bisa mendapatkan apapun. Keindahan, kemewahan, dan segalanya. Mungkin orang yang beruntung bisa menghirup nafas ibukota. Mungkin hanya orang yang tangguh, yang mampu bertahan hidup di tanah kota ini.

Aku dan Langit

Langit..  Langit dimana aku menggantungkan semua mimpi- mimpi ku. Langit dimana aku bisa melihatnya. langit yang menyatukan pandangan ku dan pandangannya menjadi satu. langit yang selalu membuat ku menatap ke atas. langit yang tak pernah berhenti menawarkan sejuta kejutan.

Aku melihatnya dari atas sebuah gedung yang berada di tengah kota. Kali ini aku melihat langit yang tak lagi tersenyum. Aku melihat kilat yang berperang di langit. aku melihat burung – burung yang berduyun- duyun mencari sarangnya.

Langit lewat bahasa yang tak pernah aku tahu. Aku ingin kau menyampaikan salam ku untuk dia yang entah berada dimana…

Aku dan sang waktu

Waktu memang telah mengubah segalanya. Mimpi menjadi kenyataan dan masa lalu menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang mungkin bagi sebagian orang akan dilupakan, dibuang dan dijauhi. Namun, bagi sebagian yang lainnya menjadi sumber inspirasi untuk tetap bertahan dalam kehidupannya.

Orang sering memanggilnya Rinai, seorang perempuan desa yang pendiam. Dia tidak banyak mempunyai teman, karena dia memang tidak suka untuk bergaul dalam keramaian. Selama sepersepuluh abad, dia menghabiskan waktu untuk belajar. Belajar melupakan Binar. Rinai ingin menutup semua impian yang terlintas dalam pikirannya ketika dia masih bersama dengan seorang pria yang akrab dipanggil Binar.

Sejak pertama kali melihat binar di aula sekolah menengah pertama, Rinai memang telah menjadikan binar sebagai mentari di hatinya. Binar juga yang telah menjadi motivasinya untuk terus mencari ilmu hingga bangku universitas. Bukan hanya itu, Binar juga menjadi alasan pertama kenapa Rinai masih menetap di  sebuah kota Istimewa di Jawa. Rinai tak ingin meninggalkan kota kelahiranya karena dia ingin suatu saat nanti ketika Binar kembali, dia bisa bertemu. Namun, kenyataan memang tak sejalan dengan keinginan. Selalu ada ketimpangan antara das sain dan das sollen begitu kirannya ketika di tulis dalam bahasa ilmu sosial.

Binar tak pernah kembali lagi ke hadapan Rinai, seusai perpisahan yang diadakan oleh sebuah sekolah yang ada di sebuah desa di ujung DI. Yogyakarta. Binar juga tak pernah datang ketika ada acara pertemuan yang diselenggarakan oleh teman – teman satu angkatannya.  Binar tidak menghadirinya bukan tanpa alasan. Dia tidak hadir karena Cintia tidak datang. Alasan itulah yang mungkin selalu membuat semangat Rinai patah ketika mendatangi acara pertemuan itu.

….

Sekali lagi waktu telah mengubah segalanya, tetapi tidak akan mengubah perasaan Rinai terhadap Binar.

 

 

Yogyakarta, 2014-11-10

 

Mentari_Pagi

 

PASAR

Pasar merupakan suatu tempat bertemunya penjual dan pembeli. Lebih jauh lagi, ketika kita membicarakan pasar, maka kita juga harus menyinggung mengenai barang atau komoditas dan uang. Pasar dapat pula dikatakan sebagai arena untuk melakukan proses negosiasi antara penjual dan pembeli. Proses negosiasi berguna untuk mencapai suatu kesepakatan. Kesepakatan tersebut nantinya akan menguntungkan kedua belah pihak.